Kebutuhan mutlak manusia untuk ber t uhan, menuntun banyak “kemungkinan” dalam sebuah wadah keagamaan. Begitu pula bagi mahasiswa yang seri...
Kebutuhan mutlak manusia untuk bertuhan, menuntun banyak “kemungkinan” dalam sebuah wadah keagamaan. Begitu pula bagi mahasiswa yang sering kali terjebak dalam hiruk pikuk kampus. Mencoba menilik mereka yang “mayor” dan “minor”, sampai di titik mana eksistensi mereka kini?
Berbagai kegiatan yang menjurus ke arah sibuk, sebagai seorang mahasiswa adalah sebuah hal yang sehat. Tugas kuliah yang menumpuk, berorganisasi, membaca banyak literatur, dituntut untuk terus bergerak ke depan, interaksi sosial, dan berbagai singgungan yang mungkin di lingkungan kampus mengalir begitu saja. Pemikiran begitu penuh, waktu juga banyak tersita untuk banyak hal yang terkadang tidak lagi di “tempatnya”. Sisi rohani mahasiswa sempat dipertanyakan. Adakah celah tersebut di tengah carut marut mereka?
Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM), khususnya UKM kerohanian berdiri sebagai wadah yang sebenarnya bertanggungjawab dalam permasalahan tersebut. Masing-masing kepercayaan diwadahi dalam “toples” yang bervariasi. Keluarga Mahasiswa Hindu Dharma (KMHD), Jamaah Nurulhuda Unit Kegiatan Mahasiswa Islam (JN UKMI), Persekutuan Mahasiswa Kristen (PMK), Ikatan Mahasiswa Agama Budha (IMAB), dan Keluarga Mahasiswa Katholik (KMK) merupakan “toples” warna-warni tersebut. Mereka mencoba merangkul saudara seiman mereka dengan berbagai upaya. Sebagai sebuah bukti kepedulian persaudaraan dan tentunya sebagai usaha peningkatan iman mereka. Pertemuan atau persekutuan rutin mereka selenggarakan minimal satu kali dalam seminggu dan bertempat di tempat ibadah masing-masing. Dalam pertemuan rutin tersebut mereka lebih banyak “berbagi”, seputar masalah keagamaan dan pribadi mereka. Penyampaian kabar sukacita (firman) dan perbincangan tentang komunitas mereka juga menjadi topik penting dalam tiap pertemuan.
Di luar berbagai pertemuan yang mereka lakukan, banyak juga kegiatan yang berhubungan dengan lingkungan sekitar kampus. Kegiatan yang paling sering adalah bakti sosial, seperti donor darah atau penggalangan dana untuk korban bencana. Bahkan, JN UKMI sering mengadakan kampanye jilbab, sebuah upaya untuk membentuk kesopanan dan ketaatan dalam kepercayaan mereka. Mereka mengkritisi cara berpakaian remaja putri khususnya yang semakin “terbuka”. Pendekatan antarpersonal juga mereka lakukan untuk mencover mahasiswa-mahasiswa muslim dalam Asistensi Agama Islam (AAI). Tak jauh berbeda dengan kegiatan asistensi yang dilakukan UKM kerohanian lain.
Semua upaya telah dilakukan untuk sebuah kata “kebersamaan” dalam komunitas mereka. Para mahasiswa pun menyambut antusias. Mereka selalu rajin dalam kegiatan keagamaan tersebut. Setidaknya meyempatkan datang untuk berinteraksi dengan saudara mereka. Namun di sisi lain, ada juga mahasiswa yang lebih mengutamakan kegiatan berorganisasinya dalam UKM regular lain daripada berkumpul untuk “berbagi”. Hal ini sangat dirasakan mengganggu, terutama bagi UKM kerohanian yang dianggap minor karena terbatasnya jumlah anggota mereka. Tercatat hanya ada sekitar 50 mahasiswa Hindu dan 20 mahasiswa Budha yang tergabung dalam organisasi mereka.
Keluarga mahasiswa Hindu dan Budha dirasa lebih mandiri, kerena mereka lebih banyak berswadaya dalam pengumpulan dana untuk kegiatan mereka. Hal ini mereka lakukan karena memang dana dari universitas sukar turun. Mahasiswa Budha bahkan harus merogoh kantong mereka masing-masing untuk merawat Vihara Kampus. Sebenarnya mereka sempat mengajukan dana tapi berkali-kali ditolak oleh universitas. Hingga akhirnya mereka mendapat dana bantuan dari Pemerintah Kota (Pemkot) Solo untuk melakukan renovasi tempat ibadah.
Meski berada di tengah padatnya perkuliahan, keberadaan organisasi kerohanian tetap lah mendapat apresiasi positif dari mahasiswa. “Ya, kami memang sibuk kuliah dan penat dengan tugas-tugas dari dosen, tapi berkumpul dengan saudara-saudara seiman adalah obat tersendiri. Setidaknya ibadah saya di tiap harinya bisa menentramkan hati dan pikiran saya,” ujar Shandy, mahasiswa Jurusan Seni Rupa Murni. Kita harus bisa memberikan prioritas dalam setiap jalan hidup kita. Seriuh apa pun, kehidupan kampus tetap lah tidak bisa lepas dari kebutuhan kerohanian.[]ipe
COMMENTS