Doc. Ayuz Oleh: Sri Mulyati “ When words fail, music speaks.” Begitulah yang dikatakan oleh bapak dongeng sedunia, Hans Christia...
“When words fail, music speaks.” Begitulah yang dikatakan oleh bapak dongeng sedunia, Hans Christian Andersen. Ungkapan tersebut bisa dimaknai bahwa lagu bisa menjadi sarana ketika kata-kata mungkin tersendat di tenggorokan kita. Ia bukan hanya sekadar lirik dengan nada, tapi juga bahasa seribu umat.
Diskusi rutin Kalpadruma pada Kamis (13/11) mengajak para anggota untuk berbagi lagu kesukaan mereka serta apakah benar lagu bisa menggambarkan kepribadian seseorang. Hasilnya sangat menarik, di mana ternyata lagu-lagu yang mereka sukai tidak monoton yang sedang booming saat ini atau terpaku pada satu genre tertentu. Diskusi ini menghasilkan lagu lintas angkatan, juga benua.
Salah seorang peserta diskusi dari jurusan Sastra Indonesia, Eka, mengaku menyukai lagu-lagu jadul milik Nikke Ardilla, terutama Aku Cinta Padamu. Ia mengaku bahwa lagu-lagu jadul meskipun membawa tema cinta, liriknya tidak muluk-muluk seperti kebanyakan lagu zaman sekarang. Berbeda dengan Eka, kebanyakan peserta lain justru mengaku amat menikmati musik populer zaman sekarang. Lagu-lagu dari band seperti Ungu, Republik, dan ST 12 amat digemari, terutama lagu-lagu yang bisa membuat galau. Ada alasan tersendiri mengapa lagu-lagu galau menjadi favorit, bukan karena suasana hati sedang seperti itu, melainkan lebih kepada efek yang lebih besar yang diberikan olehnya.
Akan tetapi, sebagian besar peserta diskusi yang lain tidak setuju pada hal ini. Mereka juga tidak bisa memilih jenis lagu favorit seperti apa karena mereka senang mendengarkan lagu sesuai mood yang sedang mereka rasakan. Jadi meskipun lagu adalah bahasa yang universal, tidak ada satu lagu yang bisa dijadikan patokan untuk menggambarkan kepribadian, apalagi suasana hati yang senantiasa berubah. Sehingga, soal lagu yang bisa dijadikan sebagai cerminan kepribadian, sepenuhnya tidak dibenarkan oleh peserta diskusi.
Diskusi ditutup oleh pertanyaan dari Dwi Ardianto, dari jurusan Sejarah, bahwa lagu pada zaman dahulu bisa digunakan sebagai cerminan dari sebuah generasi. Akan tetapi, hal itu sulit ditemukan pada masa sekarang, mengingat produksi lagu cenderung mengikuti pasar, ketimbang menunjukkan sebuah idealisme.[]

COMMENTS