Saat pagi, dimana awan berkumpul menemani langit serta angin yang terus menyapa pepohonan. Berlokasi di sebuah kampus ternama di Surakarta, ...
Saat pagi, dimana awan berkumpul menemani langit serta angin yang terus menyapa pepohonan. Berlokasi di sebuah kampus ternama di Surakarta, Universitas Sebelas Maret. Langkah demi langkah seakan berat saat ini, mungkin karena terbayang mengapa gadis itu bisa menempuh kuliah disini. Tepat hari ini 3 Maret 2017, kampus mengadakan acara Dies Natalis. Rasa malas untuk hadir sebenarnya ada, tetapi entah kaki ini mengajak tubuh gadis itu untuk sedikit beraktivitas.
Gadis yang kurang bisa bersyukur, angkuh, dan keras kepala. Ya, itu ucapan orang-orang untuk pribadinya. Langkah lamban dan mata yang menatap keindahan kampus ini, melihat sekeliling dipenuhi euforia para siswa yang maha di sini. Entah apa guna perayaan seperti ini, batinnya. Apa sekedar para gadis yang melakukan potret diri dengan latar keramaian ini?
Kini gadis itu berada di stand Fakultas Ilmu Budaya, fakultas yang mengajarkan ilmu-ilmu budaya bagi penganutnya. Sastra salah satunya, prodi yang diselami dan akan menjadikan gadis itu gelar nanti. Pertunjukan puisi diadakan, rasa tertarik dirinya timbul untuk melihat dan meresapi. Di pertengahan pembacaan puisi itu, hadir bisik di telinga.
“Mbak anak budaya, ya?”, pelan katanya.
“Aduh Mas bikin kaget, nggak usah pake bisik bisa kali. Iya, memang kenapa?”, ketus gadis mungil itu.
“Tidak kenapa-kenapa. Saya hanya sekedar tanya”.
“Aduh Mas bikin kaget, nggak usah pake bisik bisa kali. Iya, memang kenapa?”, ketus gadis mungil itu.
“Tidak kenapa-kenapa. Saya hanya sekedar tanya”.
Gadis itu tak merespon lagi dan malah menatap aneh pria disampingnya.
“Mbak di FIB asik, ya”, seru pria aneh itu lagi.
“Biasa aja sih, emang situ anak FIB juga?”
“Iya..” jawabnya.
“Mbak di FIB asik, ya”, seru pria aneh itu lagi.
“Biasa aja sih, emang situ anak FIB juga?”
“Iya..” jawabnya.
Perasaan gak pernah liat nih orang sekitar FIB, batin gadis itu.
“Seru belajar bahasa dan budaya. Kan kalau bukan kita siapa lagi yang menjaganya, aset penting Indonesia ya budaya ini”, tegasnya.
“Iya benar. Walau sering tidak dipandang oleh para fakultas-fakultas ternama”, sindir gadis itu dengan tatapan lurus ke depan pertunjukan.
“Tapi aku belum bisa menemukan kesenanganku di sini. Belum bisa membanggakan apa yang aku jalani sekarang. Tidak ada yang istimewa sih lebih tepatnya”, ujar gadis itu lagi.
“Seru belajar bahasa dan budaya. Kan kalau bukan kita siapa lagi yang menjaganya, aset penting Indonesia ya budaya ini”, tegasnya.
“Iya benar. Walau sering tidak dipandang oleh para fakultas-fakultas ternama”, sindir gadis itu dengan tatapan lurus ke depan pertunjukan.
“Tapi aku belum bisa menemukan kesenanganku di sini. Belum bisa membanggakan apa yang aku jalani sekarang. Tidak ada yang istimewa sih lebih tepatnya”, ujar gadis itu lagi.
“Oh, Mbak berarti kurang bisa bersyukur. Tapi tak apa, Mbak masih punya ketertarikan pada sastra. Saya melihatnya dari pandangan Mbak yang seakan menelaah pertunjukan puisi ini. Jadi Mbak adalah penerus pelestarian budaya kita ini. Mbak harus bangga akan hal itu!”, katanya seraya mengeluarkan rokok dari sakunya.
“Ah, Mas terlalu banyak sok tahu. Saya buntu dalam puisi, dan dangkal dalam melakoni peran. Jelas tidak pantas semestinya”, jawabku.
Kalimatku tak digagas olehnya, dia hanya tersenyum dan memberikan sepucuk surat yang berisi tulisan ini:
“..dan bilamana,
kamu hanya memandang embun pagi sebagai tetesan air dari kumpulan mega
bila nanti memuai jua diiringi terik mentari
sangat jelas kau tak bisa melihat sebuah keindahan
begitu pula kamu, siapa pun kamu yang tak bisa lebih sedikit bersyukur
memandang budaya hanya sebuah nama
menilai budaya hanya sekumpulan paradigma
kini kau harus lebih bisa memahami, hal kecil yang kau pandang ini
harus kau rawat, yakni aset budaya Kami Kita dan Anda”
kamu hanya memandang embun pagi sebagai tetesan air dari kumpulan mega
bila nanti memuai jua diiringi terik mentari
sangat jelas kau tak bisa melihat sebuah keindahan
begitu pula kamu, siapa pun kamu yang tak bisa lebih sedikit bersyukur
memandang budaya hanya sebuah nama
menilai budaya hanya sekumpulan paradigma
kini kau harus lebih bisa memahami, hal kecil yang kau pandang ini
harus kau rawat, yakni aset budaya Kami Kita dan Anda”
Tiffani Theresia
COMMENTS